Abi ku Multi Talenta

Suara bel berdering sangat kencang ke setiap sudut sekolah, jam di kelas menunjukkan pukul 12 siang, pertanda kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai. Aku keluar kelas menunggu teman-temanku yang lain sambil memandangi keadaan sekolah ku yang memprihatinkan. Sekolah yang bisa dibilang masih tergolong sekolah baru, Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Bekasi. Aku melihat banyak beberapa rombongan Bebek dan Angsa masuk ke dalam halaman sekolah ku, halaman dan lapangan yang datarannya tidak rata dan dipenuhi dengan tanah merah, namun ada hal yang membuatkku tersenyum yaitu jika musim penghujan datang maka lapangan digenangi air yang sangat banyak, di sekolahku seperti ada danau musiman. Belum lagi areal di pinggiran dan belakang sekolah yang menjadi pusat pembuangan sampah oleh penduduk sekitar. Tatkala aku sedang belajar, bau sampah yang tidak enak sering tercium ke dalam kelas yang di bawa oleh hempasan angin sepoi-sepoi yang di kirim Allah untuk menyejukkan panasnya udara dikala mentari memancarkan sinarnya yang begitu terik. Aku benar-benar tidak merasa nyaman sama sekali karena nikmatnya hembusan angin yang sesekali membuat mataku kantuk disertai dengan bau yang tidak sedap.

Kami berkumpul untuk keluar gerbang sekolah bersama-sama. Teman-teman yang juga aku anggap sebagai sahabat dan saudara-saudaraku. Teriknya matahari di siang bolong membuatku beserta teman-teman lainnya memutuskan untuk singgah beristirahat di salah satu rumah diantara kami yang jaraknya tak jauh dari sekolah. Panas yang diberikan sang raja siang itu benar-benar membuat kami merasa seperti berada di tengah padang pasir dengan suhu di atas 50o C. Meski panas terik menghantam ubun-ubun di kepala kami namun momen kumpul bersama sahabat dekat merupakan hal yang paling menyenangkan, semuanya tidak akan terbayar dengan apapun sampai matahari sebagai salah satu sumber terbesar yang Allah ciptakan untuk bumi dan seisinya pun tak lagi jadi penghalang.

Siang itu merupakan siang yang tak dapat aku lupakan. Perubahan jati diri dari seorang hamba kepada hal yang insyaallah bisa dibilang lebih baik, aku dapatkan pada hari itu. Umi mengajarkan aku beserta teman-teman yang hadir pada saat itu tentang banyak hal. Tentang hidup, perbuatan baik dan yang terpenting adalah kemuliaan dari seorang perempuan. Aku tahu mengapa Umi menjelaskan tentang semua ini ? karena Umi menyayangi aku.

Waktu itu aku memang belum melaksanakan perintah Allah Yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat An Nuur ayat 31 yang berbunyi “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,……” dan Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Ahzab, 33 : 59). Saat itu aku memang susah sekali untuk mengenakan pakaian takwa yang benar-benar dimuliakan Allah, busana muslimah yang menutup aurat sehingga dapat menjaga kehormatan dari perempuan yang memakainya dengan benar. Umi menjelaskannya dengan gamblang dan mendalam, hingga tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca, kilauan air mata itu mulai menggenangi kelopak mataku yang mulai memerah, namun aku segera mengusapnya, menunduk sambil menutupi wajahku dengan selembar kertas. Aku malu jika harus dilihat Umi dan teman-teman kalau aku menangis. Aku tak mau kelihatan cengeng dihadapan mereka.

Alhamdulillah…..aku memang benar-benar harus bersyukur pada Allah karena Allah telah membukakan dan melunakkan hatiku. Secara kontan aku memutuskan untuk memakai jilbab !!! karena sebelumnya beberapa orang yang menyuruhku memakai jilbab sama sekali tidak berhasil, tapi siang itu Allah memberikan hidayah pada hamba yang keras hatinya. Ya….terkadang aku memang bisa menjadi perempuan pembangkang karena saat itu aku juga terlihat sedikit agak tomboy. Tapi Alhamdulillah Allah masih menyayangiku. Pada saat yang sama pula sahabatku banyak yang memberikan seragam panjangnya untukku. Subhanallah…Allah benar-benar kasih kemudahan bagi hamba yang benar-benar ingin menuju pada jalan-Nya. Keesokan harinya aku mengenakan jilbab. This is my first time that I was wearing a veil. Agak canggung memang, tapi orang-orang mengatakan aku cantik dengan penampilan yang seperti ini. Ingin tertawa rasanya…… aku cantik ??! Dan setelah dua hari kemudian dengan berani aku memutuskan hubungan dengan seseorang yang aku sayangi. Semuanya karena Allah, insyaallah !! Entah apa yang membuatku senekad ini, aku seperti tidak memikirkan perasaannya jika aku melakukan hal ini. Sedih dan sakit memang, tapi semuanya mengalir begitu saja, Allah yang berkehendak untuk menggerakkan semua ini.

Itulah Umi, Allah memberikan beliau sebagai perantara agar aku bisa berubah. Melalui Umi, aku hijrah dari jahiliyah menjadi sholehah, Amin…Insyaallah. Kata-katanya tegas, kencang dan mujarab. Lain halnya dengan Abi, Abiku ini memang lebih santai dan humoris, walaupun tak jarang tegas dan galak, seolah kami sebagai anak-anaknya sedang berada dalam asuhan militer. Tapi aku senang ….meski terkadang agak sedikit ngeri dalam menghadapi Abi.

Hari-hariku sedikit demi sedikit mulai berubah, semuanya memang lebih baik walaupun hanya sedikit. Karena bagiku semua itu butuh proses, harus pelan-pelan dan tidak bisa langsung berubah secara drastis. Abi dan Umi memberikan aku banyak ilmu.

Abi yang selalu mengajarkan aku untuk berjihad di jalan Allah, karena Abi ingin anak-anaknya menjadi mujahid atau mujahidah seperti dirinya. Abi juga sebagai motivatorku, sama seperti Umi, setiap rangkaian kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi untaian sebuah doa bagi setiap orang tua untuk memacu anaknya dan mendukung (mensupport) tiap langkah usia yang ditempuh oleh sang anak, dan semua itu membuat aku bangkit kembali, saat aku sedang dalam keterpurukan, saat hatiku sedang dalam kekosongan, saat aku tidak tahu bagaimana cara memaknai arti hidup dan sampai tujuan hidup pun aku tidak tahu untuk apa, kalau tak Abi jelaskan.

Seperti dalam buku yang pernah aku baca, terdapat sekelumit pesan indah “Kewajiban insan berakal hanyalah sibuk dengan tiga hal, yaitu mencari bekal menuju hari kekal, mengais rezeki demi kehidupan di bumi dan memperoleh nikmat dengan rezeki yang halal” bagiku maksud dari pesan tersebut adalah menjalani kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya sesuai yang disyariatkan tanpa harus melalaikan kewajiban kita sebagai seorang hamba yaitu beribadah kepada Sang Pencipta. Sama seperti firman Allah dalam Qur’an Surat Adz Zaariyat ayat 56 yang isinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku “. Kini aku mengerti, apa tujuan manusia hidup di bumi…..

Masih banyak hal yang belum aku ceritakan tentang Abi. Abiku juga seorang Chef atau dalam bahasa Indonesia tukang masak bahkan bisa dibilang ahli masak. Abi pernah bercerita padaku kalau waktu ia muda dulu, ia pernah belajar masak untuk masakan restoran atau perhotelan, jadi Abi tahu banyak mengenai jenis makanan dan tahu persis bagaimana cara mengolahnya. Sebagai perempuan yang pastinya selalu berkutat di dapur, tentu aku ingin belajar lebih banyak sama sang Chef tentang masakan-masakan. Aku bersyukur bisa menjadi anak Abi, karena makananku selalu disajikan dengan menu yang nikmat meski hanya lalapan, ikan asin, sambel dan sayur asem. Aku ingin pandai memasak seperti Abi.

Dengan rumah yang sederhana, namun sangat membawa berkah, dan bagiku itu lebih dari cukup. Teras dan halaman yang luas dengan sebagian atapnya tertutupi oleh terpal berwarna biru dan orange, ruang tamu yang ala kadarnya hanya beralaskan karpet tikar dengan satu meja tanpa kursi disekelilingnya. Meski keadaannya demikian tapi sebenarnya Abi adalah seorang pengusaha. Abi banyak bekerjasama dengan orang-orang, aku memang tidak mengenal orang-orang itu, tapi hubungan Abi dengan mereka adalah hubungan bisnis yang insyaallah binis yang mendapat ridho dari Allah. Amin. Abi bekerjasama dengan ikhwan lainnya dengan membangun yayasan yang bergerak di berbagai bidang usaha. Di Kalimantan Abi juga punya pabrik Donat.

Selain itu Abi juga seorang arsitek, tapi ilmunya tidak terlalu diterapkan dalam keseharian, jadi pekerjaan yang satu ini tidak terlalu menonjol dalam dirinya. Yang paling menonjol adalah Abi itu juga bisa dibilang Ustad, tapi aku heran mengapa orang-orang tidak pernah memanggil Abi dengan sebutan Ustad ? Abi adalah orang yang mengerti dan paham akan Islam, semua perkara akan diselesaikannya dengan hukum Islam, karena kita memang orang Islam. Yaa….Abiku memang multi talenta, selain Abi seorang mujahid, Chef, pengusaha, arsitek, Abi juga orang yang mengerti Islam. Terimakasih ya Allah Engkau telah beri aku Abi dan Umi. Aku sayang Abi dan Umi.

Seandainya Abi dan Umi adalah sebenar-benarnya Abi dan Umi ku………namun rasa sayangku terhadap mereka tidak melebihi rasa sayangku kepada kedua orangtuaku yang telah melahirkan dan membesarkan aku. Terlebih lagi sayang dan cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: