Mungkin ALLAH Punya Rencana Lain Yang Lebih Baik

Semuanya berjalan terasa sangat cepat, hingga aku hampir lupa apa saja yang pernah aku jalani selama ini, memori kisah klasik yang selama ini hangat tersimpan dalam hati, sedikit demi sedikit mulai meredup saat semuanya kembali hancur dengan lisan dan sikap yang tidak dikehendaki oleh hati terdalam.

Dalam suatu hubungan pasti terdapat kenangan, dan dalam kenangan pasti terdapat kenangan indah dan kenangan pahit. Itulah hidup, semuanya begitu berwarna jika kita mau menyikapinya dengan bijaksana dan dengan hati lapang. Namun apa yang terjadi tatkala masalah datang dengan cara dan rasa yang sama dan semua tak dapat dihindari, semuanya kembali disakiti dan tersakiti. Saat itu, apakah kebijaksanaan sama sekali tidak berperan didalamnya ?? kemana kebijaksanaan itu ???!!

Aku, kamu, dia dan juga mereka mungkin pernah mengalami peristiwa yang kualami, dan bisa saja itu sama. Maka aku ingin sekali berbagi peristiwa dalam cerita pada kalian para pelaku peristiwa. Cerita bisu yang tak pernah diketahui bagaimana akhirnya meski sudah berakhir, tidak tahu apa artinya meski sudah merasakan dan tidak mengerti mengapa berjalan seperti ini. Semua berlalu begitu saja, seperti berjalan dan mengalir mengikuti air tanpa bisa menolak derasnya arus air meski telah berusaha dengan cara apapun. Hati ini terjerembab dalam derasnya laju air yang menuju pada tebing yang curam, maka salah satu cara adalah berusaha menghentikan semua dengan melompat dan menyelam meski susah payah harus berenang melawan derasnya arus yang datang secara berlawanan, secepatnya aku harus menepi atau aku akan mati dalam gelombang hati yang selalu bergolak kencang dan memilukan.

Lagi-lagi inilah hidup…..ternyata tak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Seperti kisah yang entah harus bagaimana cara mengungkapkannya, semua begitu rumit bagiku. Semuanya tentang cinta, cinta pada orang yang ku cinta, cinta pada orang tua yang kusayang, cinta pada saudara yang ku kasihi dan cinta pada sahabat sangat sangat peduli padaku. Hmmm……. Cinta pada orang yang ku cinta ??? aku selalu takut mencintainya……

Ditengah malam sunyi, saat semua makhluk memejamkan matanya dan mengistirahatkan anggota tubuhnya, aku seperti mendengar dering telepon genggamku yang sangat khas. Dengan sangat berat aku mulai membuka kelopak mataku perlahan-lahan, tanganku meraba kasur disamping kepala seraya mencari sumber bunyi dari ringtone “Secret Admirer”. Dengan suara parau aku menyapa suara dari kejauhan sana, sudah ku ketahui siapa orangnya. Di malam itu kami membicarakan banyak hal, mulai dari perbedaan sudut pandang mengenai Islam, kembali pada masa lalu sampai menyatukan kembali hati yang pernah terpisah dengan mencoba berkomitmen untuk menjalani hubungan serius, yang sebelumnya telah berjalan selama tiga tahun dalam ketidakjelasan, pembicaraan yang sangat panjang dan rumit. Akhirnya kami bersepakat untuk menjalaninya.

Beberapa hari sebelum malam itu kami memang sudah mulai dekat kembali setelah empat bulan lamanya kami tak bersua satu sama lain. Aku memberanikan untuk mencobanya meski hatiku ragu dan nurani terdalam mengatakan “TIDAK”. Aku tak pernah bisa menolaknya dengan tegas. Detik jarum jam dalam tiap menit kian berdetak, menitpun berubah menjadi hitungan jam, lalu jam yang terus berputar dalam siang dan malam beralih menjadi hari. Pada hari-hari itulah aku merasakan kepedulian dari seseorang, rasa kasih dan kesenangan, namun semuanya hanya ku ungkapakan dengan sikap dan lisan, lalu bagaimana dengan hatiku ?! terkadang hatiku memang terbawa tapi tak jarang pula hatiku menolak semua itu. Aku terhimpit dalam pergolakan batin yang aku sendiri tak dapat menyelesaikannya dengan hati dan diriku. Aku munafik…aku fasik…

Beberapa hari berselang, aku dikenalkan oleh keluarga dan teman-temannya, kami tampak sangat dekat, namun semuanya tidak berjalan lama karena ternyata aku tidak merasakan nyaman dalam hati. Selalu dilemma. Aku tidak bias menjalaninya, aku tidak bisa menjalani hubungan dengan hati yang tidak tenang, walaupun aku tahu bahwa aku menyayanginya.

Kala itu malam belum beranjak naik, dalam telepon aku berusaha mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku mulai menguraikannya, dan pada hening malam dalam kamar yang hangat aku merasakan tenggorokanku tercekat, aku ingin menangis….mataku memang mulai berkaca-kaca, kelopak mataku mulai terbendung menampung kilauan air mata yang tertahan. Suaraku parau dan akupun bercerita dengan menangis.

Entah mengapa aku tak pernah bisa menjalin hubungan ini lagi, meski aku sudah berusaha untuk mencoba. Hatiku tak sejalan dengan ini dan itu. Aku sudah banyak mengalami peristiwa pahit baik dalam keluargaku maupun pengalaman yang kudapat dari cerita orang lain mengenai dampak dari tidak sejalannya aqidah dan pemahaman antara dua insan dalam satu atap, karena tak mungkin terdapat dua cabang iman dalam satu rumah. Aku takut….aku selalu mengkhawatirkan hal itu. Aku tidak mungkin berjalan dengannya sementara banyak kasus yang sudah jelas terjadi dihadapanku, apakah aku akan mengabaikan semua contoh kasus yang sudah dialami oleh orang-orang terdahulu ? jika iya maka cintaku hanya berlandaskan hawa nafsu yang selalu berbolak-balik dan menjerumuskan.

Aku pernah membaca dalam buku dengan sedikit kutipan, yaitu “Labid berkata, Dustakanlah nafsu jika kamu berbicara dengannya, sebab membenarkan nafsu hanya akan melambungkan angan.” Dan ada satu pesan lagi yang selalu mengingatkanku dari cinta yang berlebihan, yaitu “Jauhilah cinta yang berlebihan dan cinta yang dilarang, sebab itu adalah adzab bagi jiwa dan penyakit bagi hati. Kembalilah kepada Allah, kepada mengingat-Nya dan kepada menaati-Nya” akupun mendapatkan sekelumit pesan lagi dari salah satu majalah islami yang mengatakan bahwa “Perkawinan yang menggembar-gemborkan kata “Cinta” pada akhirnya menjadi barang murahan tatkala jalinan suci itu dibumbui dengan nafsu yang berbolak-balik. Dan ironisnya, mahligai suci jalinan suami istri itupun dihancurkan dengan kata yang sama yaitu sudah tidak “Cinta”

Aku menyudahi hubungan ini lagi. Dan ini untuk yang kesekian kalinya. Lalu saat aku melanjutkan pembicaraanku, dia menyetopnya karena dia tak tahan mendengar semua ceritaku, dia ingin menangis karena merasa sudah tidak bisa membuatku nyaman. Dalam masalah dunia aku memang cocok dan sangat nyaman tapi kalau sudah membahas masalah Islam kami agak sedikit berbeda. Aku tahu perbedaan itu indah, perbedaan itu rahmat dari Allah yang harus disyukuri dan dengan perbedaan itu pula kita bisa saling melengkapi. Tapi aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa….meski aku menyayanginya tapi kalau dengan berlandaskan agama yang seperti demikian aku tidak bisa. Aku hanya mencoba mengikuti kata hatiku yang paling dalam, aku hanya bisa meminta dan memohon kepada Allah, dan mungkin ini hasilnya. Meski kita berdua sudah berusaha tapi mungkin Allah punya rencana lain yang lebih baik untuk kita berdua. Amin….

Sampai pada malam berikutnya ia mengirimkan pesan singkat pada telepon genggamku, “Kala sang fajar bersinar di pagi hari, kenapa awan mendung datang ? Semua orang berlarian menjauh. Biarlah sinar ini bersinar menyendiri sepi, kan ada yang akan menemani dengan menerima keadaannya meski harus terkena silaunya. Terima kasih membuatku mencoba menjauh dari kehidupan ini. Selamat tinggal sang bintang yang tak lagi menemani, ku coba jalani ini dengan damai dan cinta putih yang tergores tinta hitam bercucuran menunggu indahnya kesejukan.” Saat membaca pesan itu aku benar-benar beku seperti terhimpit dalam lautan es yang begitu dingin, aku tidak bisa bergerak dan sulit untuk bernapas, tapi juga ingin menangis namun tak bisa. Isinya pesan itu benar-benar membuatku……..

Semuanya memang berawal dari cinta, kemudian dijalani dengan cinta dan aku juga akan berusaha semampuku untuk menyelesaikannya dengan cinta. Tapi apakah aku bisa menyelesaikannya dengan cinta ? karena aku hanya bisa menyakiti bukan memberikan cinta yang berarti. Semoga perpisahan ini karena Allah, mungkin Allah mempunyai wanita pilihan lain yang lebih baik dari ku, begitu juga denganku. Amin…aku hanya ingin apa yang aku jalani semuanya karena Allah semata dan semoga aku bisa. Karena cinta yang aku rasakan selama ini bukan cinta yang dilandaskan karena Allah, ini hanya cinta yang ditimbulkan dari keinginan hati antara dua manusia yang berlebihan. Karena takkan kau rasai indahnya cinta andai tiada buat yang Esa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: